Jumat, 01 Juni 2012

Kode Etik Seorang Engineering

Sebelum kita membahas Etika dalam Engineering kita harus mengetahui apakah itu etika sebenarnya.

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata ‘etika’ yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan. Jadi dapat kita simpulkan bahwa ETIKA adalah sebuah sifat atau kebiasaan seseorang yang sudah mengerti salah dan benar dalam setiap perbuatan yang dia perbuat.



Engineering merupakan keahlian yang penting dan terpelajar. Seorang engineer harus bisa mempertanggung jawabkan semua hal yang dilakukannya terutama yang berhubungan dengan bidang pekerjaannya mengenai engineering. Karena semua perbuatannya harus bisa dipertanggung jawabkan, maka seorang engineer harus benar-benar mampu melaksanakan tugas engineering nya dengan baik, cermat, dan terhindar dari keteledoran. Untuk itu profesi engineering merupakan profesi yang cukup vital dan oleh karenanya membutuhkan keterampilan dan keahlian yang mendalam di bidangnya. Karena jika tidak, dampak dari hasil pekerjaannya atau hasil penelitiannya dapat mengakibatkan hal yang merugikan pihak lain. Bisa suatu hal yang merugikan secara materi atau bahkan yang sampai menghilangkan nyawa manusia. Oleh sebab itu dalam menjalankan tugas atau pekerjaannya seorang engineering harus selalu mempertimbangkan tiga hal penting yang disebut kode etik engineering
Engineer harus mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan umum

Etika dalam engineering adalah sekumpulan standar yang menentukan kewajiban engineer terhadap publik, klien, atasan, dan kepada profesinya itu sendiri. Etika akan menjadi pemandu untuk seorang engineer agar dapat meningkatkan kualitas pekerjaannya, sekaligus bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan publik.

Berbagai organisasi keprofesian dalam bidang engineering merumuskan kode etik yang berbeda-beda. Misalnya, kode etik untuk insinyur sipil dibuat oleh American Society of Civil Engineers (ASCE), dan kode etik untuk insinyur elektro dibuat oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). Walaupun demikian, kode etik untuk seluruh profesi engineer memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan profesionalitas kerja.

Dalam bidang elektroteknik, IEEE telah merumuskan sepuluh poin kode etik bagi electrical and electronics engineers di seluruh dunia.

  1. Bertanggung jawab dalam membuat keputusan yang konsisten terhadap keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan publik, serta menghindari sekaligus menyingkap faktor-faktor yang membahayakan publik dan lingkungan.
  2. Menghindari konflik kepentingan dan menyingkap konflik kepentingan yang terjadi.
  3. Selalu jujur dan realistis dalam membuat pernyataan atau perkiraan berdasarkan data yang tersedia.
  4. Menolak penyuapan dalam segala bentuk.
  5. Meningkatkan pemahaman tentang teknologi, aplikasinya, dan konsekuensinya.
  6. Menjaga dan meningkatkan kompetensi teknis, serta hanya menerima pekerjaan teknis bila memiliki kualifikasi yang cukup (berdasarkan pelatihan atau pengalaman), atau bila telah mengungkapkan ketiadaan kualifikasi tersebut.
  7. Mencari, menerima, dan memberikan kritik yang jujur terkait dengan pekerjaan teknis, dengan tujuan mengidentifikasi atau mengoreksi kesalahan, serta menghargai kontribusi dan karya orang lain secara baik dan benar.
  8. Memperlakukan setiap orang secara adil tanpa mempertimbangkan ras, agama, jenis kelamin, kecacatan, usia, atau kebangsaan.
  9. Menghindari tindakan yang dapat melukai orang lain, properti yang dimilikinya, reputasinya, atau pekerjaannya.
  10. Membantu rekan kerja dalam pengembangan keprofesiannya dan mendukung mereka dalam mematuhi kode etik ini.
Berdasarkan sepuluh poin kode etik yang telah dirumuskan oleh IEEE, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya etika engineering adalah pedoman bagi engineer untuk menjaga tiga hal terpenting dalam profesinya: keselamatan, integritas, dan kompetensi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar